Sejarah Yogyakarta

Yogyakarta merupakan daerah istimewa di Indonesia, sebagai pusat seni Jawa klasik dan budaya seperti: batik, balet, drama, musik, puisi dan wayang. Kota Yogyakarta adalah ibukota Indonesia selama Revolusi Nasional Indonesia dari tahun 1945 hingga 1949.

Wilayah Yogyakarta adalah 3000 kilometer persegi, dan terbagi menjadi 1 kotamadya dan 4 kabupaten. Di bagian utara atau wilayah Sleman berpusat di sekitar bangunan era kolonial Belanda dan menjadi kawasan industri. Jalan Malioboro dengan deretan vendor trotoar dan pedagang kali lima berdekatan dengan pasar dan mal, menjadi tempat untuk berbelanja atau sekedar jalan jalan saja. Sedangkan Jalan Solo adalah tempat perbelanjaan kedua namun tidak seramai Malioboro. Disebelah selatan Malioboro adalah pasar seni Beringharjo, benteng Ford Vredeburg Belanda.

Di pusat Yogyakarta, Kraton Yogyakarta menjadi tempat yang padat yang dihuni oleh masyarakat yang telah diijinkan oleh Sultan. Dibagian belakang gedung Keraton, terdapat Tamansari yang pernah digunakan sebagai taman keputren raja Mataram dan dibangun pada tahun 1758. Rekonstruksi dilakukan pada tahun 2004 dalam upaya untuk memperbaharui dan merenovasi bagunan sebagai cagar budaya untuk para wisatawan.

Pada bagian utara terdapat gunung Merapi yang berlokasi di kabupaten Sleman. Gunung Merapi adalah gunung api aktif strato yang berdiri kokoh di perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta. Gunung berapi aktif terkemuka di Yogyakarta dan sering meletus sejak mulai 1548 dan terakhir meletus pada November 2010.