Tamansari

Tamansari adalah sebuah kastil berlokasi 500 meter dalam sisi selatan Kraton Yogyakarta. Dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana I yang akhirnya selesai oleh Sultan Hamengku Buwana II. Dirancang sebagai tempat pengganti mode campuran dan perpaduan desain Jawa dan Portugis.

Tamansari dirancang setelah kesepakatan dari Giyanti tahun 1755, Sultan Hamengku Buwana telah menangani pertempuran dan konflik. Oleh karena itu, benteng air seharusnya menjadi daerah di mana Sultan akan mendapatkan ketenangan hati dan pikiran sebagai tempat bersantai. Berfungsi juga sebagai benteng pertahanan untuk mengantisipasi skenario darurat, sebagai daerah untuk ibadah yang dilengkapi dengan masjid yang mempunyai sebuah sumur yang bernama Gumuling. Tamansari terdiri dari:

  • Daerah Suci, tempat suci dalam kompleks menunjukkan gedung yang terpisah, yang pernah difungsikan sebagai tempat domisili bagi Sultan dan keluarganya.
  • Kolam pemandian, tengah hari digunakan sebagai tempat untuk bersantai untuk keturunan bangsawan. Terdiri dari 2 kolam pemandian terpisah dengan 2 bangunan. Dari ruangan tersebut, Sultan dapat menyaksikan semua wanita berenang dalam kolam pemandian. Kemudian ia dapat mengajak beberapa dari mereka untuk menemaninya ke kolam berenang. Terdapat hiasan patung air disekitar kolam dan beberapai pot bunga besar.
  • Pulau Cemeti, merupakan senyawa beberapa bangunan seperti Kenanga atau Cemeti tempat (membentuk pulau), Sumur gemuling dan terowongan bawah tanah.

Tamansari adalah sebuah taman air yang menarik dari komplek keraton Jogja yang bermakna  sebagai 'Segaran' yang berada dalam bahasa Jawa yang artinya laut buatan.